......berbagi resep berbagi cerita......

28 July 2013

Resep Pancake Saus Strawberry

Hari ke-19 Ramadhan, rasanya makan apa saja sudah gak napsu, terpaksa koki harus putar otak, bukan supaya nafsu makan kembali lagi seperti di awal Ramadhan tapi sekedar supaya masakan "kemakan" aja.

Selama Ramadhan ini update blog nyendat banget soalnya masak tanpa teori "plang plung", mateng langsung santap. Giliran hari sabtu-minggu yang seharusnya jadwal untuk coba2 resep baru malah diisi dengan acara buka bersama dan makan di luar. Lengkap sudah, koki nganggur dengan sukses.
taburan, sesuai selera sajah!

Virus nganggur saat hari libur juga nular ke seisi rumah, tidak saja ayah yang jam tidurnya tak terkendali tapi si embak jugak. Kemarin saking luar biasanya durasi tidur ayah, saat bangun diledek sama Syifa "Ayah hati2 lho kalo tidur, nanti kayak kisah Ashabul Kahfi, saking lamanya tertidur di dalam gua eh bangun-bangun duitnya udah gak ada yang laku" ha ha ha ha.........Ayah cuma tersenyum masam dan bergumam "uang ayah sih pasti laku, palagi sama mimi tuh" huaaaa kok jadi emak dibawa2, perasaan daku "tidak terlalu matre" dweh.

 Pancake Saus Strawberry
Source: Tabloid Nova
Bahan:
  • 300 gr tepung terigu
  • 1 sendok makan ragi instan
  • 400 ml santan
  • ½ sendok teh garam
  • 6 butir telur
  • 200 gr gula pasir
  • ½ sendok teh vanili
  • 25 gr mentega, lelehkan
Cara Membuat:
  1. Campur tepung terigu, ragi instan, garam, telur, gula, dan vanili. Aduk hingga tercampur rata.
  2. Diamkan adonan selama 30 menit hingga mengembang, masukkan mentega, aduk rata.
  3. Bagi adonan menjadi 5
  4. Tuang adonan pancake ke dalam pan datar antilengket. Masak hingga matang. Lakukan hal yang sama sampai bahan habis.
  5. Oles dengan saus salah satu permukaannya lalu tumpuk. Finishing siram dengan saus lagi lalu taburi keju. Sajikan.
Hasil: 5 porsi

Untuk saus strawberry bisa memakai saus instan yang beli jadi atau bikin sendiri. Ini resep ribetnya klo mau bikin sendiri (sebenernya cuma ribet dibahan sih, klo bikinnya mah mudah banget).
Saus Strawberry
2 sdm gula pasir
2 sdm selai strawberry
1 sdm gula merah
3 sdm air
Rebus semua bahan dengan api kecil hinga larut sambil terus diaduk.

Bila tidak suka dengan taste asam dari selai strawberry, selainya bisa dskipp dan sausnya akan jadi simple syrup yang juga cocok untuk siraman pancake, tinggal dimainkan jumlah airnya ya buuu!




13 July 2013

Tahu Telur



Menu ringan ringan untuk buka puasa dengan bahan dasar telur bisa banyak sekali variasinya, semuanya enak dan menggoda iman (buat yang imannya tipis tentunya). Ide awalnya mau bikin fuyunghai tapi sebagai orang Jawa Timur asli yang cinta mati sama makanan jawa timuran akhirnya belok masak Tahu Telur aja. Harga yang harus dibayar dari kenekatanku masak Tahu Telur kali ini adalah serumah “nehi semua”. Jangankan ngicipin, melihat saja sudah “week….apaan ini” (lebay tralala).

Dear Diary harus berapa kali kubilang ya kalo makanan tradisional ini endang guridandang, tapi mengapa sih seluruh dunia tidak ada yang mau mengertikyu????huaaa

Mungkin diantara pembaca ada yang sepakat dengan kelezatan Tahu Telur ini, toss dulu dong! berarti aku tidak benar2 menjadi manusia aneh sebatang kara mengatakan Tahu Telur itu uenak. OMG segitunya!

Tahu Telur
Source: Tabloid Saji
Bahan:
150 gram tahu, potong kotak
2 butir telur
1 batang daun bawang., iris tipis
½ sdt garam
1/4sdt lada bubuk
2 siung bawang putih, digoreng dihaluskan

Bahan Saus:
50 gram kacang tananh kulit, digoreng
2 siung bawang putih
2 buah cabai rawit merah
2 sdm petis
1 sdt gula merah
½ sdt garam
100 ml air panas

Bahan pelengkap:
100 gram toge, rebus dan tiriskan
1 buah timun, potong kotak
Kerupuk kanji

Cara Membuat:
1.       Campur tahu, telur, daun bawang garam lada bubuk dan bawang putih. Aduk rata
2.       Panaskan minyak goreng. Tuang 1 sendok sayur adonan. Goreng dalam minyak yang dipanaskan di atas api sedang sampai matang. Sisihkan.
3.       Saus, ulek bawang putih cabe rawit kacang tanah petis gula merah dan garam sampai halus. Tuang air sedikit sedikit sambil diaduk.
4.       Sajikan tahu telur bersama saus petis dan pelengkapnya



  


04 July 2013

Udang Goreng Bali



Jadi salah satu panitia pada acara Tarhib Ramadhan di kantor menyisakan sebuah catatan untukku, tentunya jadi banyak belajar tentang beragamnya sikap orang-orang disekelilingku.

Daku yang diserahi tugas  mencari pembicara dengan note : “harus begini harus begitu ….jangan yang begini jangan yang begitu” jadi pusing tujuh keliling dari 2 minggu sebelumnya. Puncaknya malam sebelum acara jadi deg-degan ampun-ampunan takut membuat kecewa big boss dan takut beliau tidak berkenan dengan pembicara yang kupilih, mengingat note-note tersebut di atas.

Saat sedang galau, tiba-tiba pren panitia bagian konsumsi Mbak Dewo gtok dan setali tiga uang dia ternyata sedang cemas takut big boss gak berkenan dengan konsumsi yang akan disajikan besok mengingat beberapa note-note juga dari beliau. Yaelaaah klo udah begini jadi acara curhatan dan berakhir pada "ingin menangis dipundakmu atau dipangkuanmu dweeh" tentu tanpa solusi, dimana mataku mulai berasa ada yang mbandhuli.

Daripada gak jelas juntrungannya kuberanikan diri gtok “the other big boss” yang biasanya selalu wise dan tentunya selalu solutif, kukatakan tentang note2 big boss yang membingungkan dan mencemaskan itu, sederhana saja menurut beliau intinya kita ini tidak akan bisa nyenangin dan nurutin kemauan orang, dan niatnya bikin acara  bukan buat menyenangkan big boss atau audience jadi sepanjang sudah berusaha  ya sudah. Tambahan ini juga kan acara tarhib jadi niatnya harus dilurusin, dari niat nyenengin big boss jadi niat ibadah ajah. (ternyata segampang ini urusannya mengapa gak kepikiran kesitu ya!)

Terinspirasi advice itu akhirnya kusampaikan sama Pren Mbak Dewo, yes it is “Mbak kita rubah niat kita, niat kita bukan mau bikin seneng big boss atau audience tapi kita niatkan sebagai ibadah saja karena ini acara tarhib bla….bla…bla. Happy ending, kami berdua jadi merasa tenang…..pada beberapa sisi kadang nasehat itu like aspirin ya…..menenangkan!

Yang lucu diujung percakapan sekitaran jam 8.30 an  Mbak Dewo yang pengertian ini bilang “wis nduk turuo, biasane yah mene wis molor”. Ha ha ha ha tau banget dia jadwal tidurku yang selalu balapan sama Adzan Isya itu. Suwun mbak, habis itu langsung bleg tidur dan sayangnya jam 12.30 sudah terjaga, seperti biasanya mati gaya sampe pagi karena gak bisa tidur lagiii. Huaaaaa!

--------

Oke, sekarang saatnya resep, awalnya buka-buka buku Primarasa karena mau cari resep sate lilit ala Bali Cuma kok terpikat dengan resep udang goreng pelalah yang kayaknya cara masaknya gampang banget. Dan biasanya kalau udang semuanya suka, agak bandel dikit melupakan diet asam urat ayah.


Seperti biasa pakenya udang AK 60 padahal diresep disarankan pake udang AK 16, eeeet dah itu udang opo senjatanya TNI siih kok pake AK….AK…. For Your Info ya jangan bosan, udang AK 60 itu artinya dalam sekilo gram isinya ada 60 udang klo AK 16 ya isinya 16 udang (di emol2 biasanya pake satuan ini).

Lalu kenapa pake AK 60 sementara resepnya bilang AK 16, sederhana saja alasanku, aku paling males denagn udang yang guede-guede model AK 16 gitu soalnya jadi gak bisa bedain “ini lagi makan udang apa makan singkong sih” ---no offence please.


UDANG GORENG PELALAH (BALI)
Source: Primarasa—Dapur Nusantara

Bahan:
8 ekor (500g) udang ukuran besar
½ sdt garam
½ sdt lada bubuk
4 sdm santan kental
2 sdt air jeruk limau
2 sdm bawang goring

Bumbu halus:
8 butir bawang merah
2 siung bawang putih
4 buah cabe merah
2 butir kemiri sangrai
2 sdt terasi
½ sdt garam
1 sdt gula pasir

Cara membuat:

  1. Bersihkan udang, belah punggung keluarkan urat hitamnya. Olesi dengan garam dan lada hingga rata.
  2. Panaskan minyak goreng dalam wajan, masukkan udang. Goreng hingga udang berubah warna dan matang, angkat, sisihkan.
  3. Panaskan kembali 4 sdm minyak goring, masukkan bumbu halus aduk hingga harum, bumbu matang serta bau langunya hilang.
  4. Masukkan santan dan air jeruk limau, aduk hingga bumbu berminyak, angkat.
  5. Taruh udang diatas piring saji, tuang bumbu di atasnya, taburi permukaannya dengan bawang goreng, hidangkan selagi panas.


dinarasikan bersama Once---Dealova, lagu kebangsaan saat long distance love sama hubby dulu! ----dan tiba-tiba teringat seorang sahabat sebelah kubik di kantor lama, dia menasehatiku "jangan memuja berlebihan mbak sama suaminya (come on pak??? itu hanya sebuah lagu yang kusetel berulang2) nanti kalo tiba2 terjadi sesuatu kamu akan seperti jatuh dari ketinggian kayak yang aku alami sekarang ini" Deg!! Naudzubillah dengan "sesuatu yang tiba2 terjadi"  itu. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal buruk. Amin.

29 June 2013

KAMU TIDAK PERNAH SENDIRI (Sebuah Catatan Hati)



Membezuk seorang teman yang dirawat karena kanker payudara stadium 4 di sebuah rumah sakit di daerah Rawamangun Jakarta Timur menyisakan catatan tersendiri untukku. Mungkin ini bisa memberi manfaat atau sekedar memberi pencerahan hati buat temen-temen pembaca (mudah-mudahan) maka aku share disini.

Saat aku bezuk, kondisi temanku ini sudah sedemikian parahnya dan yang membuat aku terenyuh tidak saja kondisi si teman ini tapi juga suaminya yang tentunya sudah sedemikian lamanya mendampingi istrinya mencari pengobatan. Wajahnya teramat lelah, tentunya bukan karena dia tak lagi sayang pada istrinya atau karena dia bosan merawat istrinya…yang kulihat adalah potret sebuah keputusasaan dan kelelahan jiwa yang tak tergambar betapa berat melaluinya. Seandainya dia perempuan, ingin sekali aku memeluknya, menghiburnya dan manabahkannya, ya..karena aku tahu persis rasanya berada dalam posisi dia.

Tak berapa lama setelah kejadian itu, seorang teman mengajakku untuk bezuk putrinya atasanku yang dulu, ke RSCM tapi karena suatu kesibukan yang tak bisa kutinggal akhirnya aku melewatkan “ladang ibadah” itu. Sepulangnya dari sana si teman bercerita tentang keadaan putrinya atasan yang makin memburuk dan diujung cerita dia mengatakan “kasian banget lihat si Ibu, beliau kelihatan lelah bahkan sampai seperti lupa mengurus dirinya sendiri rambutnyapun tak sempat disisir”. Entah kelelahan jiwa seperti apa yang ditanggung si Bunda berhati mutiara itu menghadapi kenyataan penyakit langka yang diderita putrinya sejak kecil hingga wafatnya di usia ke-21 tahun. (beberapa teman mengatakan penyakit yang diderita adalah penyempitan pembuluh darah di kepala yang mengakibatkan suply oksigen ke otak menjadi terganggu/tidak stabil---maaf kalau salah bahasa medisnya!). Semoga surga dan segala isinya bisa Ibu nikmati bersama putri Ibu kelak ya Bu, Amin.

Dua kondisi berbeda tapi satu muaranya, yaitu dalam kondisi dimana ada anggota keluarga yang sakit parah maka tidak saja si sakit yang butuh pengobatan tapi lebih dari itu orang-orang terdekat si sakit terutama yang memang 24 jam menemani dan merawat si sakit sejatinya juga amat sangat butuh perawatan, dalam hal ini perawatan jiwa. Mereka adalah orang-orang dengan kondisi jiwa yang rapuh, mungkin putus pengharapan, dan kadang tidak tahu harus bagaimana.

Teringat olehku saat putriku dirawat di RSCM dulu, dalam kondisi jiwa yang benar2 tidak siap aku menjalani pengobatan putriku, kondisi diperburuk karena suami harus bolak-balik Jakarta-Kalbar (saat itu suami masih bertugas di Ketapang Kalimantan Barat). Merasa sendiri dan tak berdaya meskipun banyak sahabat yang mengulurkan tangan menawarkan diri untuk support disela-sela jam kerja mereka (teman2 KPP Duren Sawit kebaikan kalian mudah-mudahan mendapatkan balasan-Nya, amin) juga Saudara-saudara baik dari pihak suami atau pihakku semua siaga bila diperlukan, tapi aku merasa yang kuperlukan saat itu hanyalah suamiku untuk terus 24 jam ada disampingku (padahal itu tidak mungkin mengingat beliau harus juga berjihad dipedalaman sana). 

Diagnosa leukemia stadium 3 benar2 membuatku berada dipuncak keputusasaan meskipun banyak teman2 yang menasehatiku bahwa semua penyakit pasti ada obatnya.  Lupa mengurus diri, lupa juga melakukan kewajiban dasarku sebagai manusia yaitu sekedar makan dan sekedar istirahat, berhari-hari dan berminggu-minggu.

Yang ada dikepalaku saat itu adalah bahwa waktuku bersama Milta tak lagi banyak maka sebanyak waktu yang kupunya itu aku ingin menghabiskan bersamanya, melakukan hal-hal yang dia suka. Menyanyikan lagu Vierra (meniru kakaknya), lagu Rossa (meniruku) dan D’Masiv (meniru embaknya) kesukaannya lalu berakhir dengan tepuk tangan kami berdua, mainan tos kaki kanan dan kiri lalu berakhir dengan tawa berderai-derai, main pesawat terbang dengan kedua kakiku dimana dia akan berteriak “lempar-lempar”, melihat album foto di HP saat main bola dan naik odong2 (dia suka sekali melihat foto naik odong2) lalu aku mengingatkannya tentang saat indah yang ada di foto itu, meniup tempat minum tupperware-nya dengan sedotan hingga berbunyi lalu terbahak-bahak, melakukan apapun yang bisa membuatnya tertawa dan bilang “Ita sayang mimi”. Maka demi tawanya aku lupa segala-galanya, apalah artinya menyisir rambut bahkan tidak makan dan tidak tidurpun jadi hal yang biasa untukku hanya demi tak mengurangi waktu bersamanya.
Diminggu kedua perawatan ketika protocol kemoterapi telah dimulai, Miltaku yang lucu tak lagi bisa duduk, meskipun sudah kuprediksi tapi tak urung kondisi ini membuat pertahananku rontok hingga ke titik nadir lalu aku jatuh sakit. Ya, di pavilion Tumbuh Kembang Nomor 11 RSCM itu akhirnya ada 2 pasien, yaitu aku dan peri kecilku. 
naik odong2
naik odong2

Di atas kertas penyakit yang aku derita mungkin tak penting, dokter pun hanya bilang kelelahan yang berlebihan. Beberapa co ass yang cukup terbuka bilang kemungkinan aku berada dalam kondisi depresi dimana  pada beberapa kasus depresi ini dapat berupa jantung yang terus menerus berdetak keras seperti yang terjadi padaku, lalu ketika tubuh dibawa berbaring terasa menggigil hingga terguncang padahal suhu stabil. Apapun nama sakitnya, buatku pribadi kondisi ini teramat membingungkan dan menakutkan hingga aku mengajukan pernyataan bodoh pada-Nya waktu itu “Ya Allah entah siapa yang akan Engkau panggil lebih dulu, aku atau Milta, aku mohon mudahkanlah jangan Engkau buat berliku jalan kematian ini karena aku tak lagi sanggup”.

Aku menyebutnya sebuah pernyataan bodoh dan aku menyesal telah mengucapkannya walaupun di dalam hati karena lihatlah betapa sombongnya aku ini, seperti mendahului takdir, seperti tak percaya jalan yang hendak Dia pilihkan, Astagfirullah, Astagfirullah!

Belakangan aku baru tau bahwa kondisi sakit yang kualami tersebut tak terlalu ganjil ketika kubaca di media massa ada satu keluarga miskin dari daerah Jawa Barat yang balitanya dirawat di RSCM menggunakan kartu miskin (setelah sebelumnya keluarga ini terlunta2 dijalanan mengumpulkan sumbangan untuk balitanya yang menderita tumor ganas lalu diblow up oleh seorang wartawan hingga akhirnya mendapatkan perawatan di RSCM). Si anak dikabarkan kondisinya membaik diawal perawatan tapi yang mengejutkan, bundanya yang dari awal sehat-sehat saja meninggal di hari ke 5 perawatan anaknya, tak diberitakan karena sebab apa. Aku menangis untuk bunda ini, karena sekali lagi sedikit banyak aku tahu tekanan seperti apa yang dia alami. Tak lama setelah kepergian bundanya, si anak mendapat kesembuhannya yang abadi, Innalilahi. (Semoga disurga kalian bisa bermain bersama, melanjutkan apapun yang tak pernah sempat kalian lakukan didunia).

Ada benang merah disemua kejadian-kejadian itu dan itulah yang ingin kusampaikan agar kita bisa belajar, bukankah hingga kita mati kita ini akan tetap jadi pembelajar, baik belajar dengan cara-cara yang kita sukai ataupun belajar dengan cara-cara yang kita benci. Jangan pernah abaikan mereka, rawat jiwanya, kuatkan hatinya, pupuklah pengharapannya karena ketika seorang yang kita cintai sakit dan disampingnya dia ditunggui oleh orang tercinta yang kuat jiwa dan raganya maka itu akan serupa dengan sebuah kerajaan dengan pertahanan dan pengamanan ganda. Semoga kita selalu sehat, Amin.



29 Juni 2013, tengah malam yang sunyi!
catatan hati tepat dihari kelahiran bidadari kecilku. Peri kecil! ada banyak hal didunia ini yang tak pernah dapat dikompromikan yaitu tentang rasa rindu yang membunuh, tentang rasa sesal yang terus membuntuti, tentang rasa bersalah yang meneror, dan tentang kenangan2 menyakitkan yang tak pernah mau pergi. Tapi percayalah, mimi mampu melaluinya!

25 June 2013

Sayur Lodeh



Diklat hari pertama, bertemu banyak orang yang menginspirasi! inilah yang aku sukai dari bertemu orang yang berbeda-beda, tiba-tiba ada saja hal-hal simpel dan mudah untuk kita lakukan ada didepan mata yang selama ini diabaikan begitu saja karena nggak “ngeh” atau nggak kepikiran. Butuh sebuah pernyataan verbal dari orang-orang di luar diri kita yang mau menyemangati dan mengatakan “kamu punya potensi untuk ini dan itu, mengapa tidak kamu lakukan?”. Tidak peduli itu lip service atau tulus dari dasar hati, yang pasti kata-kata penyemangat model gini biasanya memang sukses bikin jiwa-jiwa yang mulai layu, mulai “on fire” lagi.

Ganjil juga kalau dipikir, kita ini bukan lagi anak kecil yang harus di oyak-oyak untuk melakukan ini dan itu, kita adalah orang dewasa yang sudah amat mampu untuk menimbang mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak. Namun ternyata pada setiap kita memilki apa yang disebut sisi kekanak-kanakan, salah satunya ya itu tadi masih butuh diakui (bahasa halus dari dipuji), butuh ditunjukkan untuk melakukan ini dan itu, butuh dibelalakkan matanya untuk melihat hal-hal yang seharusnya sudah terlihat. Oalah kalo kayak gini berarti Spongebob benar ya waktu mengatakan “orang dewasa kadang-kadang sangat aneh”.

Yang agak “random” saat diklat hari pertama kemarin, karena gtalk ku aktif terus atas permintaan teman-teman (ecieeee berasa sosialita bangeddd dah), dan tuh gtalk bunyi terus “tang…tung…tang…tung” maka di kelas sampe harus mondar-mandir tiga kali charge HP itupun saat perjalanan pulang dimana lagi seru-serunya bersilaturahmi atau bergtolk-an ria sudah low batt lagi. Terganggu kah? Endak tuh, banyak teman itu menyenangkan dan disapa teman walo gak penting itu “sesuatu banget”. Masalahnya materi diklat jadi nguing-nguing entah terbang ke sisi otak yang mana. Waduh berabe urusan, karena diujung diklat akan ada test yang lunamaya sulitnya.

Kalo udah kayak gini, hari kedua diklat romannya daku harus tobat deh secara pada hari pertama, materi diklat gak ada yang nyantol babar blast. Barusan merenung, “bukannya daku dikirim ke Slipi untuk diklat ya bukan buat gtok-an” (aiiiiih indah nian dunia ini bila si emak tiap hari berpikir lurus dan teratur begini).
Etapi, mempererat silaturahmi dengan teman-teman melalui sosmed itu sama pentingnya dengan diklat kan?..........hayaaaaaaaaah alesan thok ae rek!
-------------
Eh udah hamper jam 2, harus buru-buru nulis resep nih soalnya bentar lagi pasti akan ada panggilan dinas malem dari beby Afkar dan mungkin beby yang satunya lagi (upssss saru). Ya udah nulis resep dulu deh, resep sayur lodeh. Sayur kebangsaan seluruh masyarakat Jawa yang sudah ada sejak jaman Babad Tanah Jawa (ngawur).

Untuk bahan-bahannya biasanya menyesuaikan selera ya, tapi disini yang mau kuposting adalah bahan yang umum digunakan saja. Yuuuk marii.
 SAYUR LODEH
Ala Rumah Maret
Bahan:
1/4 kg tulang sapi atau ceker untuk kaldu
1 buah jagung muda, potong-potong
2 terong ungu, kupas potong2
1 ikat kecil kacang panjang
½ buah labu siam
Segenggam daun melinjo muda, sedikit diremas biar gak langu
2 lembar daun salam
seruas cm lengkuas, memarkan
4 cabe ijo besar (aku utuhin biar gak pedes karena anak2 dan ayahnya gak suka pedas)
santan kental dari 1/2 buah kelapa

Haluskan :
7 siung bawang putih
5 siung bawang merah
7 buah cabai rawit
2 buah cabai merah besar
1/2 sdt ketumbar
Seujung sdt terasi goreng
garam dan gula merah secukupnya
Cara membuat:

  1.  Rebus tulang/ceker hingga berkaldu.
  2.  Masukkan bahan sayur bertahap dari mulai yang paling lama mateng hingga yang paling cepat mateng. (bisa kan mak, membedakannya).
  3. Sementara itu tumis bumbu halus hingga harum, masukkan rempah-rempah aduk2 lalu matikan
  4.  Masukkan bumbu halus ke panic sayur lalu tuangkan santan. Aduk-aduk supaya santan tidak pecah
  5.  Lakukan koreksi rasa.


 
Ditulis bareng lagunya Stephen Bishop---It Might Be You yang disetel berulang-ulang dan berulang-ulang, mungkin kalo dia bisa protes dia akan bilang “emaaaak, aku gemporrrr”. Sayangnya dia gak bisa bahasa Indonesia jadi pasrah aja disuruh nyanyi bolak-balik!

For Your Info: Lagu ini jadi theme song nya film lawas Tootsie yang dibintangi Dustin Hoffman, film jenis komedi yang asli romantis…tis dan sarat makna! Like dis banget deh!

Dinarasikan kemarin malam dan tiba2 Smart-ku matek akhirnya baru diposting sekarang!